Langsung ke konten utama

Bingkai Kota



Di batas kota tempat persinggahan angkutan umum yang menjadi pusat perbelanjaan  kota  selalu ramai di kunjungi warga dari berbagai daerah. Mereka datang dengan tujuan yang sama yaitu untuk membeli keperluan rumah tangga seperti perlengkapan dapur. Namun, kali ini ada yang berbeda dari biasanya. Karena sebentar lagi liburan sekolah berakhir dan semester baru pun akan segera tiba. Puluhan pedagang musiman turut meramaikan pusat perbelanjaan tersebut, mareka datang jauh-jauh dari pelosok desa demi mengumpulkan pundi-pundi rupiah. Tak hanya itu, pedagang yang hanya bermodalkan barang yang akan di jual rela menyewa rumah dengan menjadikan keuntungan sebagai taruhannya. Hampir semua pedagang yang ada di pusat perbelanjaan itu mengenalku. Hal ini di karenakan aku adalah anak juragan pasar yang biasa menggantikan pekerjaan ayahku untuk menagih iuran pasar selama liburan sekolah. Awalnya, aku risih untuk mejalankan aktivitas tersebut yang menurut sebagian orang sangat sulit. Anggapan sulit yang mereka keluhkan di landaskan pada daerah asal mereka yang berbeda-beda. Ada yang cara bicaranya lembut dan ada pula yang halus bahkan bahasa mereka berbeda pula.
Tetap teguh pada pendirian, itulah prinsip yang selalu kutanamkan. Tidak menyerah sebelum bertindak dan patuh pada perintah kedua orang tua telah menjadi kebiasaan yang mengakar dalam diriku. Pendapat orang lain di sekitar yang tertuju padaku hanya kujadikan sebagai masukan dan akan lebih percaya setelah bukti itu nyata adanya. Sama halnya ketika mereka beranggapan bahwa sulitnya menagih iuran di pasar ketika mental belum terlatih. Perbedaan di sana hanya bisa menimbulkan perpecahan dan konflik. Namun, aku tetap semangat melakukan aktivitas yang di limpahkan ayahku. Hari ini, adalah hari pertamaku menjalankan pekerjaan ayah. Ku langkahkan kaki dengan penuh semangat sambil ku selingi senyuman di sepanjang lorong pusat perbelanjaan tersebut. Dengan menggunakan bahasa pemersatu, yaitu bahasa Indonesia ku ajak mereka berkomunikasi sambil kuberikan mereka selembar kwitansi yang di tukar dengan uang Rp 2.000,- dan akhirnya aku bisa melakukannya. Tak sedikit dari mereka yang membalasku dengan bahasa daerah yang sama sekali tidak ku pahami namun itu bukanlah penghalang untuk berkomunikasi dengan mereka. Selipan senyuman serta gerakan tangan dan kepala sedikit menunduk tanda menghargai dan menghormati mereka adalah senjata utamaku.oleh karena itu, aku bisa mengenal mereka satu per satu. 
di depan gerbang pasar, aku mendatangi sebuah warung makan untuk mengisi perutku yang mulai keroncongan. Kepada pelayan warung, aku memesan semangkuk mie ayam dan segelas es teh manis penyegar dahaga. Sambil menanti pesanan tersebut tiba, aku sedikit termenung. Betapa hari ini sangat berkesan bagiku, pelajaran dan pengalaman telah ku dapat dalam waktu sekejap. Ternyata Indonesia memang kaya akan budaya dan bahasa sehingga menimbulkan perbedaan. Namun, dengan perbedaan itu justru akan lebih membawa kita dalam satu bingkai persaudaraan serta saling menghargai satu dengan yang lainnya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tanpa Syarat

Hai orang baik. Apa kabar? Aku minta maaf karena pernah melukaimu begitu dalam, Membuatmu tak lagi bertahan dengan kisah yang pernah kita mimpikan untuk berakhir bahagia. Sebenarnya, Masih banyak hal yang belum sempat kuucapkan padamu, namun kita terlanjur dipisahkan oleh keadaan. Orang baik, Terima kasih telah membalas dendam dengan cara menghilangkan jejakmu dari pandanganku. Aku tahu,  Kamu hanya ingin memulihkan hati dengan tidak menampakkan dirimu dihadapanku lagi, aku paham. Satu hal, Jika saja engkau sempat membaca ini, aku sedang tersenyum untukmu. Aku tidak akan mungkin memintamu untuk kembali lagi bersamaku, karena aku masih sangat-sangat sadar diri bagaimana aku pernah membuatmu jatuh sejatuh-jatuhnya dulu. Kamu baik-baik ya, Aku yakin dia yang saat ini mendampingimu adalah pribadi yang jauh lebih baik dariku, meskipun katamu tidak ada orang yang lebih baik dariku. - Agustus, 2021🕊️

Selamat untuk semua yang tidak terlihat

  Di antara detik-detik yang retak, aku berjalan perlahan, mendekap usia yang menggigil di antara sela jemari. Malam-malam bertambah panjang, dan aku belajar diam, belajar membaca bisu di antara denyut jantung sendiri. Menuju ulang tahun, bukan pesta yang kutuju, melainkan lorong-lorong batin yang berselimut bayang. Aku adalah kapal kecil, menyusuri samudra waktu yang tak pernah benar-benar ramah, mengangkut patah yang diam-diam bertumbuh menjadi aku. Setiap tahun menambahkan sesuatu: sedikit lebih banyak kenangan yang lupa dibereskan, sedikit lebih banyak kehilangan yang disimpan rapat, sedikit lebih banyak keberanian untuk mencintai diri yang tak sempurna. Akan ada lilin, mungkin, akan ada tawa yang jatuh di antara gelas-gelas kosong. Tapi yang paling riuh adalah hening di dalam dada, merayakan semua perih yang tetap memilih bertahan. Dan malam itu, dalam sepi paling jujur, aku akan berbisik kepada bayanganku sendiri: terima kasih, telah tetap hidup meski berkali-kali ingin menye...

Keyakinan yang kau patahkan

Hari-hariku kini terasa bising, dipenuhi gema dari bayang-bayangmu yang terus mengikuti langkahku. Begitu halus caramu melepaskan aku, seakan kehadiranku hanyalah persinggahan singkat dalam hidupmu. Padahal sejak awal, kaulah yang menanamkan keyakinan bahwa kebahagiaan itu benar-benar ada—nyata, sederhana, dan mungkin untuk diraih. Namun keyakinan yang kaubangun dengan hati-hati, kauruntuhkan begitu saja, meninggalkan sepi yang tidak pernah kuminta. Lalu kau memintaku menjauh, katanya hanya sementara, demi fokus pada pendidikanmu. Namun kenyataannya jauh lebih pahit—di balik alasan yang terdengar mulia itu, kau telah memilih perempuan lain untuk kauhibur ketidakpastianmu. Maka aku bertanya dalam diam, apakah ini yang kau sebut fokus? Jika benar demikian, untuk apa sejak awal kau memintaku percaya? Untuk apa menanam harapan yang tak pernah berniat kau jaga? Sungguh ironis, saat aku menuntut perlakuan yang layak, kau hanya berkata bahwa kau berharap kejadian ini tidak menimpa perem...