Langsung ke konten utama

RAKYATKU TERPURUK DALAM DIAM


       
Negara Kesatuan Republik Indonesia merupakan suatu keutuhan Negara yang berlandaskan pembukaan Undang-Undang Dasar Tahun 1945 yang tercantum pada alenia ke-4 yaitu Ketuhanan yang maha Esa. kemanusiaan yang adil dan beradab, persatuan Indonesia, kerakyatan yang di pimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan serta kesejahteraan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Ke-5 asas tersebut adalah dasar tercapainya Indonesia yang hakiki. Namun, sampai saat ini, kita belum menyaksikan Indonesia yang hakiki. Pemerataan kesejahteraan belum sepenuhnya tercapai, keadilan masih saja berpihak kepada mereka yang berkuasa. Seperti yang di ketahui bersama, bahwa Indonesia sebenarnya adalah Negara yang kaya akan segalanya. Mulai dari kekayaan alam yang berpotensi memberikan kontribusi besar bagi keuangan Negara hingga kekayaan akan Sumber Daya Manusia (SDM) yang bisa mengelola kekayaan alam tanpa harus mencari pengelola dari Negara lain. Tapi ironisnya, hal tersebut justru tidak berjalan dengan semestinya. Bahkan di usia ke-72 tahun Negara Republik Indonesia, masih banyak rakyat yang belum menikmati keadilan sosial dan kesejahteraan yang  merata. Berbicara mengenai kesejahteraan dan keadilan, justru yang terbenak dalam sekilas ingatan adalah masalah korupsi. Masalah tersebut sudah semakin merajalela bahkan dari tahun ke tahun selalu mengalami peningkatan. 
 Korupsi adalah mengambil uang yang bukan haknya ketika di amanahkan dalam sebuah kegiatan atau jabatan sehingga perbuatan tersebut sangat tercela. Saat ini, sangat mudahnya kita menyaksikan seorang petinggi Negara yang melakukan perbuatan korupsi. Bahkan Komisi Pemberatasan Korupsi (KPK) tak pernah berhenti dalam berjuang memberantas korupsi tersebut. Korupsi memang sudah menjadi perbincangan hangat di beberapa kalangan saat ini. Dari kalangan rakyat biasa, mereka hanya sebatas mengetahui dan menyaksikan tanpa bertindak karena sekeras apapun suara mereka pasti takkan di dengar oleh sang penguasa Negara. Tak hanya itu, ketika kalangan mahasiswa turut menyuarakan sebagian suara rakyat biasa melalui aspirasi kepada petinggi Negara justru di hadang dan sama sekali tak di hiraukan. Tentu, hal tersebut mengundang amarah dan kekecewaan besar. Lantas apa yang harus di perbuat agar korupsi di Negara ini bisa di berantas secara tuntas ?. Dalam diam, kita semakin di perbudak oleh penguasa. Korupsi saat ini adalah sebuah tontonan publik yang tak lagi menerima kritik dan saran. Suara di bungkam, perekonomian di tindas hingga rakyat semakin terpuruk. 
 Sampai saat ini, sudah banyak cara yang di lakukan untuk memberantas korupsi. Namun, bukannya terberantas secara tuntas malah justru semakin bertambah. Dari pengamatan saya pula, semakin tinggi jabatan seseorang maka semakin pula tergiur hal ini kembali lagi kepada prinsip ekonomi yaitu semakin banyak gaji, maka tingkat kebutuhan akan semakin meningkat juga. Mungkin berangkat dari sinilah perbuatan korupsi bisa terjadi. Korupsi sangat memberikan dampak buruk terhadap Negara. Namun, justru hukum yang di berlakukan dalam masalah korupsi tak sebanding dengan perlakuannya sehingga banyak orang yang menyepelekannya.
 Untuk memberantas secara tuntas, tentunya hukum harus bekerja seadil-adilnya. Ketika seseorang melakukan korupsi, maka harus di selidiki secara tuntas berapa nominalnya kemudian berlakukan denda dengan kelipatan tertentu serta berikan sanksi berupa kurungan yang setimpal dengan perbuatannya. Sehingga bisa menjadi pembelajaran bagi siapa saja yang menyaksikannya. Karena menurut saya, dengan cara itulah Negara tercinta akan bebas dari korupsi. Marilah kita bersatu, bersatu dalam suara menyuarakan kembali hak demi Indonesia seutuhnya. Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) siap memberikan perlindungan dalan mengawal suatu kebenaran. 
 Negara Indonesia sebenarnya bisa menjadi Negara maju apabila terbebas dari tindakan korupsi yang sangat merugikan Negara. Bayangkan saja, ketika uang Negara di kantongi secara sepihak oleh orang tertentu dengan tujuan untuk kepentingan pribadi dan sama sekali tidak merujuk pada kepentingan Negara, bagaimana kesejahteraan itu bisa mengakar dan tumbuh sebagaimana tujuan Negara kita yang hakiki.

Komentar

Unknown mengatakan…
Artikel yang bagus. Kalau berkenan dapat mengunjungi blog saya di libertysites.wordpress.com. Terima kasih

Postingan populer dari blog ini

Keyakinan yang kau patahkan

Hari-hariku kini terasa bising, dipenuhi gema dari bayang-bayangmu yang terus mengikuti langkahku. Begitu halus caramu melepaskan aku, seakan kehadiranku hanyalah persinggahan singkat dalam hidupmu. Padahal sejak awal, kaulah yang menanamkan keyakinan bahwa kebahagiaan itu benar-benar ada—nyata, sederhana, dan mungkin untuk diraih. Namun keyakinan yang kaubangun dengan hati-hati, kauruntuhkan begitu saja, meninggalkan sepi yang tidak pernah kuminta. Lalu kau memintaku menjauh, katanya hanya sementara, demi fokus pada pendidikanmu. Namun kenyataannya jauh lebih pahit—di balik alasan yang terdengar mulia itu, kau telah memilih perempuan lain untuk kauhibur ketidakpastianmu. Maka aku bertanya dalam diam, apakah ini yang kau sebut fokus? Jika benar demikian, untuk apa sejak awal kau memintaku percaya? Untuk apa menanam harapan yang tak pernah berniat kau jaga? Sungguh ironis, saat aku menuntut perlakuan yang layak, kau hanya berkata bahwa kau berharap kejadian ini tidak menimpa perem...

Bingkai Kota

Di batas kota tempat persinggahan angkutan umum yang menjadi pusat perbelanjaan  kota  selalu ramai di kunjungi warga dari berbagai daerah. Mereka datang dengan tujuan yang sama yaitu untuk membeli keperluan rumah tangga seperti perlengkapan dapur. Namun, kali ini ada yang berbeda dari biasanya. Karena sebentar lagi liburan sekolah berakhir dan semester baru pun akan segera tiba. Puluhan pedagang musiman turut meramaikan pusat perbelanjaan tersebut, mareka datang jauh-jauh dari pelosok desa demi mengumpulkan pundi-pundi rupiah. Tak hanya itu, pedagang yang hanya bermodalkan barang yang akan di jual rela menyewa rumah dengan menjadikan keuntungan sebagai taruhannya. Hampir semua pedagang yang ada di pusat perbelanjaan itu mengenalku. Hal ini di karenakan aku adalah anak juragan pasar yang biasa menggantikan pekerjaan ayahku untuk menagih iuran pasar selama liburan sekolah. Awalnya, aku risih untuk mejalankan aktivitas tersebut yang menurut sebagian orang sangat sulit. An...

Hari yang Munanti

Untuk: Nurhamzi Al-Hayat Detak detik jam kian mengejar sang waktu Terasa begitu mencekam Ia bagai pesawat jet yang cepat berlalu Mengangkut waktu silam Waktu bisa menjadi sahabat Waktu pula bisa menjadi musuh hebat Namun, selama kita mempersiapkan diri Dalam menghadapi segala kemungkinan Waktu akan berteman dengan kita Tetapi, ketika kita lalai Dan hanya berleha-leha Waktu akan menggilas kita Selamat ulang tahun untukmu, sahabatku Perjalanan waktu telah mengantarmu Menuju pada usia yang lebih dewasa Pandanglah masa depan dengan penuh bahagia Singkirkan segala hambatan yang menghalangi tujuan hidupmu, yakinlah cita-citamu akan tercapai dan semoga Tuhan selalu Ridho terhadap segala ikhtiarmu Sahabatku, hari ini adalah hari kelahiranmu Usiamu suda menjajaki angka dua puluh dua Harapanku... Lupakanlah segala kegalauan masa lalumu tataplah masa depan dengan gagah berani tangkap setiap peluang yang ada Tetaplah menjaga imanmu, patuhilah nasihat orang tu...