Senyuman; |
| Tersembunyi deraian air mata |
| Penahan suara teriakan jiwa |
| Menyisakan kepiluan yang tak terungkap |
| Wajah palsu penghias kehidupan |
| Hempasan perasaan yang tak lagi dihargai |
| Tawaran sejuta pesona indah dalam kehidupan |
| Menyisakan sederet harap |
| Yang merasa dekat belum tentu tau segalanya |
| Hanya sebatas prolog sebuah novel |
| Tanpa tau kandungan dan makna cerita didalamnya |
| Biarlah mereka menelisiknya dipermukaan |
| Tak perlu menyelam hingga ke dasar lautan |
| Mahkota hati dalam kesendirian |
| Pada akhirnya, semua hanyalah perjalanan sementara |
| Bergantung pada tujuan diri |
| Hingga menemui keabadian di Jannah-Nya Makassar, 13 Februari 2020 11:11 AM |
Hari-hariku kini terasa bising, dipenuhi gema dari bayang-bayangmu yang terus mengikuti langkahku. Begitu halus caramu melepaskan aku, seakan kehadiranku hanyalah persinggahan singkat dalam hidupmu. Padahal sejak awal, kaulah yang menanamkan keyakinan bahwa kebahagiaan itu benar-benar ada—nyata, sederhana, dan mungkin untuk diraih. Namun keyakinan yang kaubangun dengan hati-hati, kauruntuhkan begitu saja, meninggalkan sepi yang tidak pernah kuminta. Lalu kau memintaku menjauh, katanya hanya sementara, demi fokus pada pendidikanmu. Namun kenyataannya jauh lebih pahit—di balik alasan yang terdengar mulia itu, kau telah memilih perempuan lain untuk kauhibur ketidakpastianmu. Maka aku bertanya dalam diam, apakah ini yang kau sebut fokus? Jika benar demikian, untuk apa sejak awal kau memintaku percaya? Untuk apa menanam harapan yang tak pernah berniat kau jaga? Sungguh ironis, saat aku menuntut perlakuan yang layak, kau hanya berkata bahwa kau berharap kejadian ini tidak menimpa perem...

Komentar